Pertarungan Yang Dilupakan

Suara penyiar radio mengagetkanku: berita. Tentang pertarungan. Mataku memicing enggan membuka, kupingku melebar menajamkan dengar. Tarung lagi, gumamku mencibir, sambil sedikit mengangkat selimut. Sudah berapa lama dan berapa upaya penyelesaian yang sudah dilakukan tapi pertarungan itu masih terus berlangsung. Mungkin masih lama, bahkan sangat lama. Hidup tanpa pertarungan bagaikan sayur tanpa cabe. Kurang pedas. Tidak hangat. Tidak menggairahkan.
Lagi, pagi ini dibangun dengan semangat (bayangan) pertarungan; memperbaiki nasib, merebut rejeki, dapat mengantongi banyak uang, untuk mendapatkan apapun. Hal-hal menarik yang ditawarkan papan-papan reklame, iklan televisi, suara-suara merayu dari radio dan berbagai macam sale di mall-mall. Meskipun [meskipun] barang-barang itu tidak dibutuhkan. Sama sekali. Hidup semakin menjadi pertarungan.
Siaran televisi siang ini memukulku. Pertarungan itu, masih terus berlanjut. Beberapa orang berlarian, kepalanya mengeluarkan beberapa darah. Darah segar, darah merah, darah manis, darah kental, darah kental manis. Bulu kudukku begidik ngeri.
Bauna menepuk punggungku, aku tak bereaksi. Dia mengulanginya lagi. Dia berdiri tegap sambil menatapku heran. Dahinya berkerut, matanya menatapku tajam. Kalau mata itu pisau lipat tentu sudah bersilangan merobek-robek mukaku. Dadanya bergetar tertahan, dari sana kudengar dia berbisik; “Bunga, aku selalu menemukan dirimu diantara retina dan kelopak mataku yang sedang berkedip”. Aku terperangah. Tangannya mengayun ke punggungku lagi. “Bunga…!”. Katanya, aku melengak, mengerjap-ngerjapkan mata, tubuhku terasa lemas.
“Aku lapar, belum makan siang”, kataku pada Bauna.
“Sampai kapan kau merasa lapar dan butuh makan siang”.
“Jangan menggangguku dengan pertanyaan-pertanyaan. Aku ingin merasa lega”.
“Sampai kapan kau ingin merasa lega”.
“Ehm… aku ngantuk”.
Dan rasanya aku tertidur.
Tubuhku ringan, tubuhku bangkit dan kutemukan Bauna di dekatku. Tangannya menenteng nasi bungkus.
“Kau lapar-kan”. Katanya dingin. Tak kutemukan senyum dibibirnya.
“Ya, eh, tidak juga”, jawabku tergagap sambil meraih nasi bungkus dari tangannya. Membukanya, dan kutemukan telur ceplok sedang memelototi aku.
“Hai!”, Jeritku tertahan.
“Ada apa?”.
“Tidak ada apa-apa”.
“Jangan berilusi lagi. Yang terpenting dari dunia adalah kenyataannya”.
“Aku tidak sedang berilusi, hanya telur ini, dia sedang memandang galak padaku. Seperti mau menelan wajahku saja”.
“Saranku, sebelum telur itu memakan wajahmu kau harus memakannya duluan. Bukankah itu hukum alam untuk kehidupan”.
“Ya…ya…”.
Dan secepatnya telur itu aku telan serta merta, tanpa kubelah atau kucuil terlebih dahulu. Rasanya lega. Lega yang meninggalkan tenggorokan.
********
“Aku mau pulang Bun”, kataku pada Bauna.
“Pulang!?. Kenapa”.
“Aku rindu rumah, rindu ibuk-bapak”.
“Benarkah itu. Alhamdulillah, kau masih punya rindu itu”.
“Bun!. Kau ini diajak bicara kok tidak memperhatikan”.
“Dari mana kau tahu aku tidak memperhatikan bicaramu. Mendengar itu bukan pakai tubuh atau muka, tapi telinga. Nih telinga”. Katanya sambil memegang telinganya sendiri.
“Hentikan kekerasan kepalamu, kalau kau punya rencana untuk pulang, pulang saja. Aku peringatkan, jangan suka sok punya prinsip atau mandiri itu tidak akan menguntungkanmu atau orang lain”. Sambungnya sambil terus mondar-mandir mempersiapkan alat-alat melukisnya.
“Kau diajak bicara, tapi malah mondar-mandir, tengok sana-sini. Kalau memang sudah tidak mau aku ajak bicara ya sudah. Aku diam”, mataku mulai lembab, membasah. Tanganku dengan sigap hampir menggapai tissu, tapi aku kalah gesit. Tissu itu sudah berada di tangan Bauna, dan dia tertawa.
“Gadis cengeng. Kalau mau nangis, nangis saja. Tidak usah pake tissu segala. Bulan ini sudah tidak ada anggaran buat beli tissu. Selamat menangis”.
“Bauna…!”, teriakku menahan jengkel sambil melemparkan buku tebal yang ada didekatku ke punggung lelaki itu. Tanpa ekspresi dia berlalu meninggalkan alat-alat lukisnya menangguhkan melukis, dan menutup pintu rapat. Aku sendirian dan menangis, menangis sejadi-jadinya, tanpa tissu dan sapu tangan.
********
Klakson sepeda motor tukang pos menghentak kesadaranku; telegram. Berita singkat dan datangnya cepat. Dengan perasaan cemas-cemas was-was, kusimpan telegram itu di lemari. Hari masih pagi, ber-dhuha juga belum boleh. Dan sepertinya tidak ada berdhuha pagi ini. Ada kegelisahan yang menyita perilaku rutin pagi hari. Biarkan saja, tidak terjadi setiap pagi, mungkin hanya terjadi pagi ini.
Perlukah kekhawatiran; nyatanya aku khawatir; hampir dua tahun, tidak melihat rumah, orangtua, dan konflik-konflik yang terjadi terus-menerus akhir-akhir ini. Beberapa kali dikirimmi surat dan tidak dibalas, malas saja. Mendengar sesuatu yang dianggap masalahku. Dan selalu diulang-ulang. Kali ini telegram itu pasti isinya sama saja. Tubuh sudah bersih dan penampilan sudah lengkap rapi jali. Dada deg-degan, untuk membuka atau tidak membuka telegram itu, telegram yang masih menyisakan bau kantor pos yang khas.
********
Ruang kerja Bauna selalu seperti biasa, berantakan dan tidak rapi; dia menyebutnya seni. Enak saja, seni berbeda dengan semrawut, dia tidak mau tahu, hal ini sering menjadi penyulut cek-cok kecil asyik kami.
“Bunga, kamu pulang saja, sehari atau dua, tidak ada masalah”.
“Bun, kenapa sih kamu ikut-ikutan reseh seperti mereka, selalu mengusikku”.
“Bukan itu maksudku, dan kau tahu pasti itu”.
“Ya. Didaerahku memang sudah terbiasa terjadi pertarungan. Dan tidak terjadi apa-apa. Kalau memang ada satu-dua orang yang mati itu bukan karena pertarungan itu, tapi karena nyawanya memang sudah habis, jadi mau tidak mau harus mati”.
“Keras kepala, batu saja bisa lunak. Kelak jangan menyesal dengan keputusan batumu itu. Bukannya aku sok ikut campur, suratmu kali ini sudah yang keberapa? Yang ketujuh. Itu bukan angka sembarangan. Sekali lagi aku sarankan pulanglah”.
“Untuk yang kesekian kalinya aku tidak pernah minta saran dan perintahmu, diamlah!”.
Seperti sambal, raut muka Bauna memerah kepedasan. Rambutnya mengeriap tersapu marah. Tk menyangka perhatiannya aku abaikan. Beberapa lukisannya yang belum jadi tertabrak, terinjak. Aku tersenyum, “ha…ha…ha… hati-hati, tuh kaki cuma dua”, teriakku. Tanpa melengak tubuhnya berlalu setelah itu.
Surat ke delapan tidak aku perlihatkan pada Bauna, dan sekarang telegram, termasuk surat yang ke sembilan. Rasanya Bauna harus tahu, bagaimanapun dia orang yang selama ini dekat dan mau aku dekati. Si rambut perak itu, selama tujuh tahun sabar menghadapiku, selalu memberiku rasa tenang, nyaman, aman. Dia harus tahu tentang telegram ini.
*******
“Bunga! Tangkap korannya…”.
“Buk”. Koran menimpuk kepalaku, sarafku meregang, darahku memanas sesaat.
“Sialan”. Teriakku.
Head-line koran Suara pagi ini berteriak kepadaku; “Apa!?”. Daerah Pantura bentrok lagi. Pertarungan terjadi lagi dengan alasan lain lagi. Kali ini lebih parah lagi. Lawan warga bukan sesama warga lagi, tapi aparat pemerintah. Robot-robot berdaging yang dilengkapi dengan senjata api. Siapa yang mampu melawannya. Warga Daerah Pantura harus bersedia dipindah dan ditransmigrasikan keluar Jawa, dengan alasan untuk menghindari pertarungan. Bukannya mereka tidak mau tapi, mereka tahu itu alasan yang dibuat-buat, karena daerah itu sangat potensial dan mau dibuat ruko dan perumahan elit. Alasan basi. Karena itu mereka tidak mau. Tindakan yang tepat, kataku dalam hati, diam-diam aku mengagumi mereka.
Sembilan puluh sembilan orang positif meninggal dunia, kali ini bukan karena jatah nyawanya habis, tapi DIHABISI. Seratus orang lebih masuk rumah sakit dan yang lainnya masih tetap bertahan. Tidak waktunya menggerutu, atau menyesal. Semua sudah terjadi. Telegram di tas ranselku kuambil dan hanya kuremas-remas. Tangan Bauna ikut meremas jejariku dan telegram yang amat kusut sudah berpindah ke tangannya;
Bunga koma kamu tidak usah pulang titik
Maryam
Daerah Pantura, 24 November 2004
Tubuh dan kakiku lemas. Mataku berkunang-kunang, rasanya ada banyak air yang terbendung disana dan tidak bisa keluar. Seseorang sedikit menenangkanku, merengkuh tubuhku dari belakang. Samar-samar Bauna terlihat panik.
******
“Bunga…, ini ibuk”.
“Maafkan Bunga... Sekarang Bunga akan pulang…”.
“Tidak perlu. Semua orang telah mengungsi”. Ibuk terdiam beberapa saat, air matanya meleleh mengalir menurut keriputnya yang menggaris melintang di bawah mata dan pipinya. Kusentuh pipi itu perlahan dengan tanganku, jari-jariku bergetar merasai halusnya perasaan perempuan yang selalu sabar. Halus yang menua, dan menyimpan kenyamanan yang amat sangat yang ia punya, yang selalu ada untukku, yang selama ini selalu kurindukan.
“…… Kecuali bapakmu. Dia masih dirumah, tidak mau pergi. Katanya sayang meninggalkan rumah, pekarangan dan kebunnya yang selama ini dirawatnya. Dia memang keras hati. Seperti kau, anaknya. Siapa yang salah dia punya anak sehebat dan sekeras kepala dirimu. Katanya kalau mati biar disini saja. Aku tidak dapat membatahnya apalagi memaksanya. Sampai sebuah popor menerjangnya sembilan kali sebelum api keluar kuat dari dalamnya dan menembus kepala bapakmu ”. Kata-kata syahdunya terus mengalir ke pendengaranku, dan terasa menyanyat serupa silat, lembut dan tajam. “……… Aku tidak mau bernasib seperti bapakmu, kalau masih bisa memilih hidup kenapa mesti mati, kau tahukan ibumu ini bukan mamak-mamak rapuh yang hanya bisa menangis dan meratap. Dengan masih hidup ibuk mau menuliskan sejarah atau bercerita saja tidak apa-apa, kepada semua orang tentang keberanian bapakmu yang perlu diabadikan, tentang kekerasan kepala seorang anak”. Hentikan buk, hentikan!, teriakku tanpa suara, dan air mataku terus mengalir sambil mencium tangannya lama……. Tubuhku rebah tak berdaya, ternyata aku serapuh ini, dan tidak pernah aku sangka-sangka. Aku sangat mencintai keluargaku, ibukku-bapakku. Dan berita kematian bapakku memicu jantungku dengan lebih cepat. Katanya aku jantungan, katanya tiga hari aku tidak sadarkan diri. Sadar-sadar semua ruangan sudah putih, aku jadi penghuni rumah sakit.
Sebelum semua putih ruangan rumah sakit ini berubah hitam, aku lihat Bauna bersandar di tembok memandangku, menyesalkan.

3 Comments:

Blogger joejohn0052 said...

I read over your blog, and i found it inquisitive, you may find My Blog interesting. My blog is just about my day to day life, as a park ranger. So please Click Here To Read My Blog

http://www.juicyfruiter.blogspot.com

2:17 PM  
Blogger lisataft0705501493 said...

I read over your blog, and i found it inquisitive, you may find My Blog interesting. So please Click Here To Read My Blog

http://pennystockinvestment.blogspot.com

6:42 PM  
Blogger davidjones6501892428 said...

Get any Desired College Degree, In less then 2 weeks.

Call this number now 24 hours a day 7 days a week (413) 208-3069

Get these Degrees NOW!!!

"BA", "BSc", "MA", "MSc", "MBA", "PHD",

Get everything within 2 weeks.
100% verifiable, this is a real deal

Act now you owe it to your future.

(413) 208-3069 call now 24 hours a day, 7 days a week.

12:35 AM  

Post a Comment

<< Home